Expedition Camp: Intervensi Tubuh di Ruang yang Terbagi

Di tengah lanskap urban yang terus berkembang, ruang semakin sering diperlakukan sebagai sekadar fungsi: tempat tinggal, tempat lewat, tempat bekerja. Di saat yang sama, tubuh kerap direduksi menjadi alat—alat produksi, alat ekspresi, alat konsumsi visual. Expedition Camp hadir dari kegelisahan terhadap kondisi tersebut, dengan menawarkan pendekatan lain: mempertemukan tubuh dan ruang sebagai dua entitas yang sama-sama hidup, menyimpan ingatan, dan membentuk relasi sosial.

Expedition Camp: Intervensi Tubuh di Ruang yang Terbagi berlangsung pada 14–22 Oktober 2025 di wilayah Tangerang–Serang, Banten. Program ini dirancang sebagai residensi jangka pendek dan eksplorasi artistik berbasis lokasi, melibatkan 26 seniman lintas disiplin dari berbagai kota dan negara (Asia, Amerika Latin, dan Eropa). Fokus utama kegiatan ini bukan pada produksi karya semata, melainkan pada proses membaca, mengalami, dan merespons ruang secara langsung melalui tubuh.

peserta dan panitia expedition camp 20206

Program ini diarahkan oleh Putri Wartawati sebagai Artistic Director, dengan Ferial Affif sebagai Kurator, serta didampingi oleh Ridwan Rau-rau dan Doni Ahmad sebagai pengamat (observers) yang berperan membaca dinamika sosial, konteks lokal, dan relasi yang tumbuh sepanjang proses berlangsung.

Dalam Expedition Camp, tubuh tidak ditempatkan sebagai objek pertunjukan, melainkan sebagai medium riset. Tubuh hadir untuk mendengar, mengamati, berjalan, diam, berinteraksi, dan merespons. Ruang-ruang yang dieksplorasi—baik ruang publik, ruang komunal, maupun ruang yang terpinggirkan—dipahami sebagai ruang “terbagi”: terfragmentasi oleh sejarah, perubahan sosial, konflik kepentingan, dan pergeseran nilai.

Selama sembilan hari, peserta terlibat dalam berbagai aktivitas seperti eksplorasi lokasi dan riset konteks, penciptaan karya berbasis ruang, presentasi performans di ruang terbuka, artist talk, diskusi publik, serta living camp sebagai ruang interaksi informal.

Sebanyak 26 seniman dari Indonesia dan mancanegara berpartisipasi dalam Expedition Camp. Mereka tidak diposisikan sebagai individu yang datang membawa karya jadi, melainkan sebagai tubuh yang membawa pengalaman, memori, dan cara baca masing-masing.

Program ini diinisiasi oleh Yayasan Semangat Berbagi dan Umah Budaya Kaujon, dengan semangat membangun ruang dialog antara praktik seni kontemporer dan kehidupan komunitas lokal.

Expedition Camp adalah pengingat bahwa seni tidak harus selalu hadir sebagai produk. Ia bisa hadir sebagai proses, pengalaman, dan relasi yang hidup.

(Teks, Putri Wartawati | Foto, Bowo Jatiwangi Art Factory)

Umah Budaya Kaujon
Umah Budaya Kaujon
Articles: 7