Jl. Hs. Jayadiningrat 6, Serang - Banten 42115
Waktu menunjukkan pukul 8.30 pagi di kota Serang. Cuaca sedikit mendung dengan angin sepoi-sepoi membelai wajah.
Kami, para anggota komunitas Geotrek.id berangkat dini hari dari kota masing-masing di Tangerang, Jakarta, Bogor dan Bandung, untuk berkumpul di Umah Budaya Kaujon sebelum kami berpetualang lebih lanjut untuk menjelajahi kota Serang dan sekitarnya.

Komunitas Geotrek.id adalah komunitas pecinta warisan sejarah alam dan budaya yang dibentuk pada tahun 2011 di Bandung. Seiring waktu, komunitas ini berkembang dengan dengan semakin banyaknya anggota dan semakin banyaknya tempat yang dikunjungi untuk mengeksplorasi bumi Indonesia. Saat ini, mayoritas anggota komunitas adalah orang-orang yang bergerak di bidang Minyak dan Gas Bumi, sehingga tujuan perjalanan sering dikaitkan dengan keahlian para anggota tersebut.
Pagi ini kami berencana untuk pergi ke Rawa Dano, di daerah Padarincang, Pandeglang, sekitar 45 menit dari pusat kota Serang.
Cagar Alam Rawa Danau adalah situs konservasi rawa air tawar pegunungan, yang menjadi dasar kawah gunung api purba, diapit pegunungan Tukung Gede Barat dan Tukung Gede Timur sebagai daerah pinggiran kawahnya (Whitten et al., 1994).
Cagar Alam Rawa Danau (CARD) merupakan satu-satunya hutan rawa pegunungan yang ada di pulau Jawa. Hampir setiap saat sebagain besar Kawasan terendam air dengan kedalaman rawa antara 2-10 meter. Rawa ini adalah hulu dari Sungai Cidanau yang mempunyai manfaat strategis dan peran penting bagi Masyarakat sebagai pendukung penyediaan air baku untuk Kawasan industry dan perkotaan di Cilegon dan Serang, serta satu-satunya reservoir air di wilayah tersebut (Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Propinsi Banten, 2018).
Keunikan karakter inilah yang menjadikan Geotrek.id tertarik untuk mengunjungi kawasan ini. Sayangnya izin SIMAKSI yang diperlukan untuk memasuki kawasan ini tidak berhasil kami dapatkan, sehingga kami hanya dapat menyusuri pinggiran kawasan Cagar Alam ini untuk melihat satu sumber mata air.
Perjalanan dimulai dengan mengunjungi kantor resort Cagar Alam Rawa Danau yang terletak di sisi CARD. Di situ kami mendapat sedikit penerangan dari staff Resort, Kang Jae dan rekannya, tentang CARD secara umum. Kami juga sempat naik ke menara pengawas untuk melihat Rawa Danau dari kejauhan. Kang Jae sempat bercerita bahwa pagi ini dia menghitung ada 12 burung Rangkong yang berkeliaran di sekitar resort. Ini salah satu indikator lingkungan Rawa Danau masih relative terjaga.
Setelah itu kami pergi naik mobil menuju Bukit Cariang untuk selanjutnya jalan kaki sejauh 2 km menuju mata air Cikedung.
Sepanjang jalan dari Bukit Cariang yang menurun tajam, kami melewati barisan habitat hutan yang terdiri dari berbagai macam spesies khas seperti Melinjo (Gnetum Gnemon), Mahoni (Switenis Macrophylla) dan bunga Bangkai Amorpophallus sp.
Setelah berjalan selama sekitar satu jam, kami pun sampai ke mata air Cikedung, Sungai kecil dengan air yang menyegarkan. Di situ kami mencuci muka dan menyegarkan badan di air Sungai yang segar, sampai akhirnya kami berhenti di sebuah saung dekat mata air untuk makan siang, yang disediakan oleh penduduk setempat.



Di saung dengan pemandangan sawah dan hutan sebagai batas awal dari Cagar alam, angin sepoi sepoi dan perut lapar, membuat makan siang dengan ayam goreng, lalab dan Rabeg yang kami bawa dari Serang terasa sangat nikmat. Banyak anggota Geotrek.id yang baru pertama kali merasakan Rabeg, makanan khas Serang yang kental dengan pengaruh arab.
Setelah makan siang dan ada penerangan lanjutan tentang materi Rawa Danau dari ketua rombongan Aries Nugroho dan dari Resort Rawa Danau Kang Jae. Setelah itu kami pun kembali ke bukit Cariang menggunakan mobil bak terbuka.
Tujuan berikutnya yang kami datangi adalah Kawasan Banten lama. Kami bergerak ke arah benteng Speelwijk, dengan sebuah tugu yang baru diresmikan, yang diduga menjadi tempat masuknya Cornelis de Houtman atau Belanda pertama kali ke bumi Indonesia pada tahun 1596. Setelah berfoto di depan tugu, kami pun bergerak memasuki komplek benteng Speelwijk. Sayangnya di bagian luar benteng, suasana sangat riuh dengan berbagai pedagang makanan dan penyewaan mainan anak, sehingga membuat nilai sejarah tempat ini berkurang.
Pada tahun 1682, penguasa Banten saat itu yaitu Sultan Haji, meminta bantuan Belanda untuk melawan ayahnya dan penguasa rivalnya Sultan Ageng Tirtayasa. Akhirnya pada 1682, disepakati perjanjian perdagangan eksklusif dengan Banten, sehingga dibangun lah sebuah Benteng di tahun 1685 , yang akhirnya dinamai benteng Speelwijk yang diambil dari nama Gubernur Jendral Cornelis Jansz Speelman.
Selesai pada tahun 1686, di benteng ini terdapat 48 meriam. Pada abad 18, dilakukan beberapa perbaikan seperti dibuatnya Gudang bawah tanah penyimpanan amunisi, dan perbaikan rumah sakit dan barak.



Karena letaknya yang berada di garis Pantai dan kekurangan air bersih, tentara di benteng mengalami berbagai penyakit tropis. Gubernur Jendral saat itu Herman Daendels berencana untuk menghancurkan benteng tersebut. Namun rencana tersebut gagal karena perpecahan yang terjadi antara pasukan Daendels dan Sultan Banten, sehingga akhirnya Banten dikuasai Belanda sepenuhnya, sehingga benteng tersebut pun kehilangan fungsinya.
Pada tahun 1911, Gubernur Jendral pada saat itu Alexander Wilem Frederik Idenburg mengunjungi Banten dan memrintahkan perawatan dan restorasi benteng dan pemakaman, sehingga benteng Speelwijk menjadi monument warisan pertama di Hindia Belanda.
Biarpun Sebagian besar dinding bagian dalam bangunan ini hancur, dinding pembatas benteng di bagian luar masih cukup terjaga. Kami dapat melihat koral-koral kokoh yang menyusun dinding, dan ini wajar karena benteng ini terletak di garis pantai, yang tentu saja tersedia banyak sumber daya koral.
Setelah puas berkeliling, kami pun kembali ke kota Serang untuk beristirahat sejenak di penginapan.
Selepas maghrib, kami lanjut ke agenda berikutnya, yaitu itu makan malam di Umah BUdaya Kaujon. Kami semua berjalan kaki menuju Umah Budaya Kaujon, karena Lokasi penginapan yang cukup dekat.


Kunjungan dimulai dengan tur museum Umah Kaujon, dipandu oleh saya sendiri sebagai pendiri Umah Budaya Kaujon.
Kami memasuki ruangan di museum satu per satu, mendengarkan cerita tentang asal muasal dan arti dari kata Kaujon, pergi ke masa lalu melihat suasana rumah jaman kolonial, sekolah Guru B, peninggalan-peninggalan dari penghuni rumah terdahulu seperti buku masak, mesin jahit dan buku catatan keuangan, serta cerita tentang tokoh-tokoh di kota Serang dan Banten pada umumnya.
Setelah tur museum, kami dibawa untuk melihat pertunjukkan tari yang dibawakan oleh Puri Putirae dan Muhay, yang membawakan tarian Ketuk Tilu.Ketuk Tilu adalah salah satu khas suku Sunda yang dianggap sebagai cikal bakal tari jaipong yang lebih populer. Tarian ini mengandung unsur tari dan pencak silat yang dilakukan oleh para laki-laki dan perempuan secara berpasangan untuk menunjukan eksistensinya (Wikipedia).


Akhirnya makan malam pun tiba. Kami digiring ke aula dalam yang telah ditata menjadi ruang makan besar bertemakan masa kolonial, sesuai tema yang diusung Umah Budaya Kaujon.
Kroket, Angeun Lada, Sate Bandeng, Emping, Spekoek, dan Speculaas adalah menu-menu yang terinspirasi dari Serang dan buku masak peninggalan penghuni rumah di masa lalu.
Banyak dari peserta yang baru pertama kali merasakan menu-menu ini. Komentar yang masuk pun beragam, terutama tentang Angeun Lada, masakan Banten yang menggunakan daun Walang, tanaman keluarga Zingiberacea dengan wangi menusuk seperti Walang Sangit. Ada yang menyamakannya seperti daun ketumbar, namun yang jelas semua setuju bahwa bau daun yang awalnya terasa menusuk, menjadi luruh dalam kuah cabai berisi daging kerbau yang dimasak dalam waktu lama.
Pertamakali saya berkunjung ke Kota Banten, ternyata banyak hal yang sangat menarik, budaya & sejarahnya. Untuk kuliner, tentang sate ikan Bandeng saya sering mendengar, tetapi pengalaman pertama menyantapnya ya di Umah Kaujon. Ternyata ada juga Angeun Lada. Mendengar namanya, dalam bayangan saya, mungkin sejenis sayur ditumis dengan kuah rempah yang sangat kuat. Namun ternyata lebih wow dari yang saya bayangan, Angeun Lada merupakan daging kerbau yang dimasak slow cooked dengan rempah-rempah salah satunya daun Walang. Waah saya juga baru tahu tentang daun Walang ini. Semua experience ini saya dapatkan ketika mengunjungi Umah Budaya Kaujon.Yang paling membuat saya penasaran adalah disana ada resep leluhur yang ditulis tangan, dengan bahasa Sunda.Tulisan tangan huruf bersambung halus tersebut mengingatkan akan tulisan ibu saya. Terimakasih uma kaujon atas experience yang indah dan kaya yang saya dapatkan minggu lalu. Saya tertarik sekali untuk perkembangan kelanjutan resep leluhurnya, saya akan berkunjung lagi. 🤩 Sukses selalu uma kaujon ✨💐💕” -Yoese Mariam-



Setelah puas makan dan bercengkrama, kami pun akhirnya kembali ke penginapan untuk beristirahat.
“Umah Kaujon sebenarnya sama seperti Umah pada umumnya dengan semua cerita kenangan keluarga yg bisa dirasakan lewat kisahnya dari masa ke masa. Yang berbeda dari Umah Kaujon dibanding Umah lainnya adalah resep peninggalan keluarga yang sangat otentik. Rasa yang membuatmu kembali ke masa saat berkumpul menikmati kue buatan Nenek, Mama, dan Bibi. Kue yang sama mungkin bisa didapat di toko dan rumah lainnya. Tapi rasa kehangatan sejarah kue Umah Kaujon hanya bisa dirasakan di Umah Kaujon Serang ❤️❤️❤️❤️
Semoga ada lebih banyak yg bisa merasakan nikmatnya kue Umah Kaujon 🥰” -Nunung-
Hari kedua di Serang
Pagi ini kami berencana untuk bergerak ke arah kota Pandeglang. Kami akan mengunjungi hutan kopi di lereng Gunung Karang, untuk melihat salah satu habitat tempat dipanennya produk kopi unggulan Banten yaitu Kopi Lepeh Lalai.
Kopi Lepeh Lalai adalah kopi yang dipanen dari hasil lepehan kelelawar kecil atau codot. Kopi lepeh lalai ini menjadi unik, karena kelelawar-kelelawar itu, seperti halnya luwak dengan kopi luwaknya, hanya akan memakan buah kopi yang sudah matang dan manis. Jadi kelelawar ini berfungsi sebagai Quality Control terhadap kualitas biji kopi yang akan dipanen. Selain itu, liur yang ikut menyelimuti biji kopi ketika dilepeh, akan mengakibatkan proses fermentasi yag membuat biji kopi semakin berkualitas tinggi.
Sayangnya pagi ini Serang diguyur hujan rintik-rintik. Begitu juga ketika kami sampai di alun-alun kota Pandeglang. Malah hujan sudah bertambah deras. Namun ini tidak menyurutkan niat kami untuk tetap naik ke Gunung Karang.

Di Pandeglang kami disambut oleh Pak Beni dari Citaman LawangTaji. Citaman LawangTaji adalah nama dari dewa wisata pengelola hutan kopi yang terdiri dari para petani kopi. Beliau kemudian memandu kami hingga sampai ke desa Citaman LawangTaji di lereng gunung Karang. Sesampainya di sana kami juga dikenalkan kepada Kang Maman, ketua kelompok petani kopi Citaman LawangTaji.
Perjalanan dimulai dengan cerita dari Kang Maman tentang kelompok tani pengelola hutan kopi yang ada di belakang kampung mereka selama 6 tahun terakhir ini. Kang Maman bercerita tentang prestasi mereka membawa kopi Banten ke kompetisi nasional, dan juga tentang betapa besarnya potensi kopi Banten yang belum banyak terdengar di masyarakat luas. Salah satu spesies kopi yang sedang berusaha dikembangkan adalah kopi jenis Liberica, jenis pohon kopi yang sudah jarang dikembangbiakan, namun memiliki potensi besar untuk saat ini.
Rombongan kami yang berjumlah 16 orang pun mulai diajak berjalan memasuki hutan di belakang kampung. Hutan Talun atau hutan Perkebunan ini terlihat cukup rapat, terdiri dari berbagai jenis pohon, dari Kopi, Mahoni, Cengkeh, Mangga, Jambu Batu, Jambu air, dan lain sebagainya.



Kami mulai berjalan menyusuri hutan, mendaki jalan berbatu, menapaki tanah cokelat yang basah diguyur hujan, menyelinap di antara akar-akar pohon yang berfungsi sebagai tangga alami, melewati hutan yang rapat, kebun masyarakat yang terbuka, sampai situs petilasan tokoh adat di tengah hutan. Sepanjang jalan itu kami ditunjukkan berbagai jenis pohon kopi yang ada di hutan. Dari Robusta, Arabica, Liberica, sampai Excelsa, yang sering juga disebut sebagai variasi dari Liberica. Pohon-pohon kopi tersebut sudah berada di hutan ini sejak jaman colonial. Umurnya bervariasi, dan ada yang sampai 100 tahun. Dulu perkebunan kopi terdapat di pusat kota Pandeglang. Sebagian dibawa ke lereng gunung Karang, namun ada juga bibit-bibit pohon yang terbawa berbagai hewan seperti burung dan kelelawar. Di bagian atas gunung di ketinggian sekitar 1200-1700 mdpl juga terdapat hutan larangan yang berfungsi sebagai penjaga cadangan air kawasan dan ekosistem dari hewan-hewan seperti macan kumbang, monyet ekor panjang dan Surili.
Di tengah perjalanan kami sampai pada suatu lahan terbuka yang sudah terdapat lubang-lubang tanam. Ternyata kami semua diberi 1 bibit kopi Liberika untuk ditanam di lubang-lubang tersebut. Inilah upaya dari para petani Citaman Lawangtaji untuk melestarikan hutan kopi dan menjadikan Citaman Lawangtaji sebagai desa wisata yang bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan.
Kami pun melanjutkan perjalanan sampai mencapai jarak sekitar 3 km, hingga akhirnya mencapai suatu saung untuk menunggu makan siang yang dimasak oleh penduduk setempat. Sambil menunggu makanan datang, Kang Maman bercerita banyak tentang perjuangannya mengelola hutan kopi ini selama 6 tahun. Sungguh bukan hal yang mudah, namun cerita Kang Maman bersama Pak Beni dan masyarakat Citaman Lawang Taji tentang peletarian hutan kopi sungguh inspiratif. Bukti bahwa dengan kemauan dan usaha yang kuat, apapun bisa dicapai.
Tidak lama, datanglah makan siang berupa nasi panas, semur jengkol, tahu tempe, sambal, lalab dan ikan goreng. Sungguh menggiurkan ditengah lelahnya kami setelah menembus hutan dan menerjang hujan.
Setelah makan siang, tiba saatnya kami mencicipi berbagai jenis kopi hasil dari hutan kopi di sini. Kami pun dibawa ke rumah produksi, yang memiliki berbagai alat pengolah biji kopi serta tempat menjemur kopi yang sudah dipanen.



Di sana kami disuguhi berbagai jenis kopi, dari kopi Robusta yang diseduh secara tradisional (kopi tubruk) juga secara manual (V60). Kami disuruh untuk merasakan perbedaan dari setiap proses pengolahan kopi. Setelah itu kami juga disuguhi kopi Lepeh Lalai (campuran berbagai jenis biji kopi), kopi Arabika, dan tentunya kopi Liberika yang sayangnya sudah sangat sedikit persediaannya, sehingga kami harus berbagi satu gelas kopi Liberika untuk 16 orang. Tidak lupa juga kami disuguhi berbagai rebusan dan gorengan, seperti jagung dan ubi rebus, serta Bala-Bala dan tempe goreng.
Setelah puas mencicipi kopi dan teman-temannya, serta berdialog panjang lagi dengan Pak Beni dan Kang Maman, kami pun Bersiap mengakhiri perjalanan jelajah Banten ini, dan kembali ke Serang sebelum akhirnya kami kembali ke kota masing-masing.
Sungguh perjalanan yang sangat berkesan!
(Syalita Fawnia)
“Memasuki Umah Kaujon dari pintu depan hingga belakang, bagai diajak ke lorong waktu dari awal 1900an hingga 2025. Museum yang didesain di Umah Kaujon menunjukan kehidupan orang-orang yang pernah tinggal di situ dengan segala aspeknya, bisa dirasakan dengan benda-benda yang ditampilkan. Biasannya museum itu ruangan besar tapi ini sebuah rumah tempat tinggal sehingga sy bisa ikut merasakan bagaimana kehidupan orang dulu. Sampai selesai tour musium lalu kita menuju area belakang, kembali merasa di th 2025 dg ruangan & aula besarnya apalagi saat itu ditampilkan sebuah performance tarian.
Bagaimana Syal menjelaskan Umah Kaujon ruang per ruang, hingga selesai di pertunjukan tari adalah elemen penting sebuah Museum. Dengan penjelasan yang renyah, dan Syal sangat menguasai cerita, seakan kita diajak untuk merasakan kondisi masa lalu di Umah Kaujon dan masa depan kota Serang dan sekitarnya.
Dan yang terpenting bagaimana perjalanan ini ditutup dengan makan bergaya kolonial. Sangatlah sempurna, apalagi menu Angeun Lada yg disajikan merupakan resep yg ditulis oleh Nenek (dan ini ada di museum)
Sekeliling Umah Kaujon sangatlah ramai dan banyak makanan yang enak2x. Support system utk mendukung Umah Kaujon sebagai salah satu lokasi menarik sdh terpenuhi. Apalagi Umah Kaujon memiliki area luas yg bisa menampung kumpul-kumpul.
Dari perjalanan ini ada tiga hal yang saya garis bawahi;
Satu, bahwa Serang-Pandeglang-Kota lama Banten memiliki keragaman yg unik, banyak tempat memarik selama kita mau mencari.
Kedua, saya belajar kegigihan dari 2 orang yaitu Syalita dengan visinya membangun Umah Budaya Kaujon dari Nol hingga kini. Sesuatu yg mungkin saya pun belum tentu mau dan bisa. Membangun Museum dan rumah yg bermanfaat bagi org Serang sekitarnya. Lalu ada kang Maman yg gigih ingin membagun desanya melalui kebun kopi yg telah diturunkan moyangnya. Melihat kondisi kebun kopi hutan yg sangat natural perlu perjuangan. Kedua orang di atas konsisten dalam kegigihan, jd terima kasih utk pelajaran 2 hari ini.
Ketiga, Geotrek.id tdk pernah berubah. Tawa khas peserta, selalu di prank antara rencana & kenyataan, kebersamaan dan egaliter pesertanya yang selalu buat kangen.” -Aries Nugroho-




