Jl. Hs. Jayadiningrat 6, Serang - Banten 42115
Jamuan Sore kali ini bertepatan dengan adanya Seba Baduy yang berlangsung di pendopo kantor Gubernur Banten, yang kebetulan hanya berjarak 350 meter dari Umah Budaya Kaujon. Seba Baduy adalah acara adat tahunan urang Kanekes atau yang lebih kita kenal dengan suku Baduy yang tinggal di lereng gunung Kendeng. Di upacara Seba ini, sejumlah besar penduduk Baduy datang ke kota Rangkas dan Serang membawa hasil panen tahunan mereka serta berdiaolog dengan penguasa setempat (dalam hal ini gubernur Banten) untuk menyampaikan berbagai aspirasi masyarakat Baduy.




Karena itu tema Jamuan Sore pun dibuat dengan sedikit mengikuti tema suku Baduy. Para peserta jamuan berpakaian serba hitam. Demikian pula kami dari tim UBK dan Rempah Kaibon. Para wanita mengenakan kebaya hitam dan para pria menggunakan baju pangsi hitam.
Jamuan Sore 2 kali ini dibuat sedikit berbeda dengan Jamuan Sore 1. Kalau pada Jamuan Sore 1 kami hanya menyajikan makanan ringan, di Jamuan Sore 2 kami menyajikan menu lengkap dari makanan pembuka, utama dan makanan penutup. Kami bermaksud untuk memberikan pengalaman berbeda kepada para peserta jamuan. Seperti pada Jamuan Sore 1, pendaftaran acara dimulai pukul 15.00 WIB. Setelah 7 orang peserta datang (1 peserta terlambat hadir) acara dimulai dengan tur museum Umah Kaujon selama kurang lebih 15 menit. Peserta terlihat sangat antusias mendengarkan penjelasan guide museum kami, Wafa.



Peserta kali ini berjumlah 8 orang dan berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda. Gasa Vedder adalah seorang MC, Voice over talent dan posdcaster kota Serang. Sedangkan Firza adalah seorang food blogger asal Serang dengan channel youtube Firzareview yang hampir memiliki 2000 subscriber. Hadir juga Kepala Bidang Kebudayaan kota Serang, ibu Ratu Anita yang membawa serta ibunya. Sedangkan 4 orang terakhir khhusus datang dari Jakarta untuk menghadiri Jamuan sore dan Seba Baduy.
Jamuan dimulai dengan makanan pembuka seperti yang pernah ditampilkan pada Jamuan Sore 1, yaitu Huzaarensla dan Aardappel Croquetten met Vleesch. Kedua menu ini merupakan menu yang sangat kental dengan pengaruh barat dan Belanda pada khususnya.



Untuk menu utama, kami menyajikan makanan andalan Umah Budaya Kaujon, yaitu Angeun Lada, disertai dengan makanan pendamping khas Serang, yaitu tumis tangkil (melinjo) dan empingnya. Banten memang terkenal dengan tanaman melinjonya. Sedangkan Angeun Lada sangat khas dengan penggunaan daun Walang, tanaman berbau khas yang dijadikan bumbu masak oleh masyarakat Banten. Jamuan kemudian ditutup dengan makanan penutup yang juga kental dengan pengaruh Belanda, yaitu Spekulaas dan Spekoek yang disajikan dengan es krim. Namun selain kental dengan pengaruh Belanda, kedua jenis kue ini juga mendapat pengaruh Nusantara dengan kandungan rempah-rempahnya.



Semua menu di atas juga didampingi oleh menu minuman dari Rempah Kaibon yang khas. Kali ini mereka menyajikan 3 minuman andalannya, Es Wedang Telang Serai Nipis sebagai minuman sambutan, Watuk hangat untuk mendampingi makanan pembuka, Kiamuk dingin untuk mendampingi makanan utama, dan Pokka untuk mendampingi makanan penutup.

Pokka merupakan varian baru dari Rempah Kaibon yang khusus dibuat untuk Umah Budaya Kaujon, menggunakan daun Walang sebagai salah satu bahannya. Demo pembuatan minuman ini di akhir jamuan mendapatkan respon positif dari para peserta. Mereka sangat antusias menguikuti prosesnya dan bertanya banyak hal selama demo.
Jamuan makan selesai sekitar pukul 17.15 WIB. Saat itu telah datang tamu dari urang Kanekes yaitu Kang Arwan yang membawa 1 orang cucu dan 2 anak laki-laki warga Baduy. Sambil menunggu dimulainya upacara Seba, para peserta Jamuan Sore 2 duduk berkumpul dengan Kang Arwan di aula belakang, dan berbincang-bincang tentang berbagai hal yang berhubungan dengan adat kebiasaan suku Baduy.



Sekitar waktu maghrib, Kang Arwan Besarta rombongan diharuskan kembali berkumpul di pendopo kantor Gubernur dalam rangka persiapan upacara Seba. Para peserta Jamuan Sore menunggu di Umah Budaya Kaujon sampai waktu Seba dimulai. Sayangnya tidak semua peserta Jamuan Sore bisa ikut melihat upacara Seba. Sebagaian pulang terlebih dahulu, namun sisanya menunggu sampai adzan Isya berkumandang, dan kami pun bersama-sama berjalan ke kantor gubernur Banten.
Saat kami sampai, acara belum dimulai, namun para warga Baduy telah berkumpul di depan kantor Gubernur. Jumlahnya mencapai 1750 orang. Semuanya lelaki, karena perempuan Baduy tidak diperkenankan mengikuti upacara Seba. Warga Baduy yang datang terdiri dari warga Baduy dalam dan warga Baduy luar. Warga Baduy luar boleh menggunakan mobil untuk pergi ke Serang dan Rangkasbitung. Sedangkan warga Baduy Dalam berjalan kaki dari desa Kanekes.



Sekitar pukul 19.30 upacara Seba dimulai. Acara kali juga dihadiri oleh 10 orang perwakilan kedutaan negara-negara sahabat di Indonesia. Upacara dimulai dengan sambutan dari pihak gubernur, dan diteruskan oleh sambutan dari pihak warga Baduy. Sebagian besar dari peserta tidak mengikuti upacara Seba sampai selesai karena malam yang semakin larut. Namun mereka sangat senang berkesempatan melihat acara yang hanya ada setahun sekali ini. Acara Jamuan Sore 2 ini pun berakhir dengan perut kenyang dan pengalaman baru yang tidak terlupakan.




