Jl. Hs. Jayadiningrat 6, Serang - Banten 42115
Pada tanggal 21 Juni 2025, Umah Budaya Kaujon meresmikan Museum Umah Kaujon. Museum ini adalah museum tentang rumah di wilayah Kaujon, Serang beserta cerita para penghuninya yang berkaitan erat dengan sejarah kota Serang, Banten. Selain menjadi institusi budaya, Umah Budaya Kaujon mendedikasikan ruangnya untuk menjadi ruang penyajian rekaman sejarah kecil dari sebuah rumah di Kaujon, Serang.
Berawal dari salah satu keturunan penghuni umah kaujon yang menemukan beberapa peninggalan keluarganya. Kemudian mencoba untuk mengumpulkan artefak lainnya yang memiliki cerita sederhana dari sebuah keluarga yang ternyata dibalik ceritanya memiliki rekaman sejarah yang cukup penting, baik di kota Serang maupun Banten bahkan Indonesia secara umum. Bukan artefak seperti museum purbakala, namun peninggalan yang menggambarkan bagaimana nilai-nilai luhur yang dijungjung tinggi oleh keluarga masih dapat beresonansi dengan keadaan jaman sekarang. Memperlihatkan nila-nilai luhur ini dalam satu penyajian yang baik dan informatif menjadi sangat penting, maka lahirlah ide tentang Museum Umah Kaujon ini.



Kami menamainya Museum Umah Kaujon, berbeda dengan nama gedungnya yaitu gedung Umah Budaya Kaujon. Di Museum kami bercerita sejarah dan mendokumentasikan berbagai artefak lainnya agar bisa menjembatani generasi masa kini dalam menyelami sejarah yang lebih intim tentang Kaujon, Serang. Di Umah Budaya Kaujon kami melakukan berbagai aktivasi kebudayaan dan seni bahkan lintas displin agar terjadi diskusi kritis dan merangsang iklim yang mendukung kegiatan seni dan budaya di kota Serang.
Pada acara pembukaan museum ini kami menghadirkan Profesor Mufti Ali, Ph.D., seorang sejarawan dan guru besar dan sejarawan Banten. Beliau menceritakan bagaimana sejarah Banten dan Umah Kaujon bersinggungan. Pendiri Umah Budaya Kaujon, yaitu Ibu Syalita Fawnia yang merupakan keturunan dari salah satu keluarga penghuni Umah Kaujon. Kemudian ada perwakilan dari keluarga Djajadingrat, yaitu Mas Ade Hilman, ketua paguyuban keluarga Djajadingrat yang merupakan keturunan dari Ahmad Djajadiningrat, mantan bupati Serang (1901-1924).


Diskusi berlangsung dengan fakta dan cerita sejarah yang saling melengkapi antara hasil penelitian Prof. Mufti Ali dengan testimoni dari keturunan Djajadiningrat yang menceritakan berbagai cerita keluarga yang sedikit diketahui oleh masyarakat banyak. Sampai-sampai Prof. Mufti Ali ingin mendapatkan kesempatan lebih jauh untuk meneliti keluarga Djajadiningrat dan melanjutkan peneletiannya di Denhag, Belanda. Kesempatan ini terbuka lebar dengan berdirinya Museum Umah Kaujon, untuk menggali lebih dalam lagi sejarah Serang, Banten dan menyajikannya di museum untuk masyarakat luas. Memperkuat identitas lokal dan menumbuhkan rasa bangga akan kota Serang di hati masyarakatnya.



Diskusi sesi berikutnya adalah diskusi mengenai ekosistem seni dan budaya di kota Serang. Umah Budaya Kaujon melihat ekosistem seni dan budaya di kota Serang perlu untuk ditelaah lebih jauh. Dengan mendatangkan para pelaku seni dan budaya di kota Serang, seperti Putri Wartawati, penari dan pegiat seni lintas budaya, Peri Sandi, seorang penyair, pembaca puisi, dan, dosen yang sedang merancang kongres kesenian di kota Serang, serta Alwin Prayoga, guru seni dan budaya di salah satu sekolah di kota Serang. Dihadiri oleh para pelaku seni kota Serang, diskusi ini memantik perdebatan tentang ekosistem yang memang secara infrastruktur masih jauh dari memadai membuat seni dan budaya di kota Serang sulit berkembang. Dengan fakta ini, Umah Budaya Kaujon semakin teguh dalam mendedikasikan ruang-ruangnya untuk berkontribusi dalam mendorong tumbuh kembang ekosisitem seni dan budaya yang kondusif juga inklusif.








Acara ditutup dengan pertunjukan tari dari anak-anak sekolah seni serang dan penampilan teatrikal dari komunitas teater di Umah Kaujon tentang perjalanan Raden Bagus Djajdiningrat berdasarkan buku Herinneringen Van Pangeran Aria Achmad Djajadiningrat. Bagaimana sejarah bisa menjadi sebuah pertunjukan dan menyentuh para penontonnya, seakan sejarah kembali hidup dan dekat dengan masa kini. Begitupula dengan keinginan dari Museum Umah Kaujon, bisa mendekatkan kembali sejarah yang jauh terpaut waktu menjadi relevan dengan masa kini.




