Kolaborasi Lintas Lembaga, “Perempuan Bercerita”

Peringatan International Women’s Day di Serang tahun ini diisi dengan sebuah ruang temu yang hangat dan reflektif melalui kegiatan bertajuk “Perempuan Bercerita” Kegiatan ini diselenggarakan oleh Umah Budaya Kaujon bersama tujuh organisasi lainnya sebagai bagian dari upaya bersama dalam merawat kepedulian terhadap isu perempuan, khususnya terkait kekerasan dan ketimpangan sosial.


Kegiatan ini berangkat dari pertemuan sederhana yang terjadi di ruang publik. Lia, perwakilan dari Umah Budaya Kaujon, bertemu dengan Ibu Mun dari LBH APIK Banten saat kegiatan Car Free Day di Alun-Alun Serang. Saat itu, LBH APIK Banten sedang melakukan kampanye mengenai anti kekerasan terhadap perempuan.


Percakapan singkat tersebut kemudian berlanjut menjadi komunikasi yang lebih intens. Dari beberapa kali diskusi dan dua kali pertemuan daring bersama sejumlah pihak, muncul kesadaran bersama bahwa isu perempuan membutuhkan ruang bersama yang lebih terbuka—bukan hanya untuk berbicara, tetapi juga untuk saling mendengar.


Dari proses itu, lahirlah gagasan untuk menghadirkan forum bersama dalam momentum Hari Perempuan Internasional. Kegiatan ini kemudian terwujud melalui kolaborasi delapan organisasi, di mana Umah Budaya Kaujon menjadi salah satu penyelenggara bersama LBH APIK Banten, Bakumdik, Aisyiyah, HWDI, Patiro Banten, Fopkia, dan Gelumpai. Sebanyak 55 peserta hadir dalam kegiatan ini, terdiri dari perwakilan organisasi dan masyarakat umum. Suasana yang terbangun begitu santai, memungkinkan setiap peserta merasa aman untuk berbagi pengalaman maupun pandangan.
Pada sesi berbagi, masing-masing perwakilan lembaga menyampaikan praktik advokasi yang mereka lakukan.


LBH Apik berfokus pada pendampingan hukum bagi korban kekerasan. Mereka bercerita tentang para perempuan korban KDRT yang seringkali pada akhirnya tidak melanjutkan kasusnya dan berujung damai. Ini tentu tidak mengakibatkan efek jera kepada para pelaku.


Bakumdik bergerak di ranah edukasi dan pemberdayaan bercerita tentang tantangan pendidikan untuk para remaja perempuan dengan berbagai permasalahannya. Ada juga cerita dari Fopkia (Forum Peduli Kesehatan Ibu dan Anak) tentang betapa kompleksnya masalah kesehatan ibu dan anak karena seringkali berhubungan dengan masalah ekonomi dan kesehatan mental. Lalu HWDI (Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia) juga bercerita tentang tantangan para penderita disabilitas dalam bersaing di dunia kerja.


Ragam perspektif ini menunjukkan betapa masih panjangnya perjuangan yang harus dilakukan di Indonesia untuk meningkatkan taraf hidup perempuan di banyak lini, dengan pendekatan yang beragam. Menariknya, meskipun datang dari latar belakang yang berbeda, seluruh organisasi yang terlibat menunjukkan kesamaan arah—yakni upaya untuk menghadirkan ruang yang lebih aman, adil, dan setara bagi perempuan.


Dalam konteks ini, Umah Budaya Kaujon mengambil peran sebagai ruang temu. Tidak hanya sebagai tempat berlangsungnya kegiatan, tetapi juga sebagai penghubung antar gagasan dan pengalaman. Peran ini menjadi penting, terutama dalam membangun dialog yang setara dan membuka kemungkinan kolaborasi yang lebih luas di masa depan. Umah Budaya Kaujon bercerita tentang sejarah berdirinya Umah Budaya Kaujon dan apa yang dilakukan selama ini, terutama yang berhubungan dengan peran perempuan dalam berbagai kegiatannya.


Sesi diskusi yang melibatkan peserta secara aktif juga memperkaya pembahasan. Beberapa pengalaman yang muncul menunjukkan bahwa persoalan perempuan tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan dengan dinamika sosial, ekonomi, dan budaya yang lebih luas.
Kegiatan ini kemudian ditutup dengan refleksi bersama yang sederhana namun bermakna. Ada kesadaran bahwa ruang-ruang seperti ini perlu terus dihadirkan—tidak hanya sebagai forum diskusi, tetapi juga sebagai upaya kolektif untuk saling menguatkan.

Lia D. Sari
Lia D. Sari
Articles: 1